Dukungan Gianni Infantino Makin Tergerus Jelang Pemilihan Presiden FIFA 2027
KANALSUMATERA.com - JAKARTA — Posisi Gianni Infantino sebagai Presiden FIFA mulai menghadapi tekanan menjelang pemilihan presiden FIFA yang dijadwalkan berlangsung pada Maret 2027. Dukungan yang sebelumnya terlihat kuat kini mulai terpecah setelah muncul kontroversi terkait rencana komersialisasi aset Piala Dunia. Kamis (20/08/2026).
Rencana tersebut berkaitan dengan upaya FIFA membuka sebagian kepentingan komersial Piala Dunia kepada investor swasta melalui pembentukan entitas bisnis baru. Proposal itu akhirnya mendapat penolakan keras dari sejumlah konfederasi dan federasi sepak bola.
CNN Indonesia melaporkan, perkembangan tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat dukungan terhadap Infantino semakin menurun menjelang pemilihan.
Baca: Pemerintah Prancis Tegaskan Zidane Tak Perlu Dipersoalkan soal Agama
Inggris dan Wales Tarik Dukungan
Gelombang penolakan terhadap Infantino terlihat dari perubahan sikap sejumlah federasi Eropa. Inggris dan Wales termasuk di antara federasi yang menarik kembali dukungan terhadap pencalonan Infantino.
Baca: Bonus Rp27 Miliar Tak Kunjung Cair, Atlet dan Pelatih Riau Siap Kepung Kantor Gubernur
Sikap tersebut memperlihatkan bahwa kontroversi tata kelola FIFA mulai berdampak langsung terhadap peta dukungan politik menjelang Kongres FIFA 2027.
Tekanan juga datang dari UEFA, AFC, dan Concacaf. Ketiga konfederasi tersebut sebelumnya menyampaikan kritik terhadap kepemimpinan Infantino serta proses pengambilan keputusan FIFA yang dinilai tidak cukup transparan.
Peta Dukungan Mulai Terbelah
Baca: Pekanbaru Juara Umum O2SN Riau 2026, Borong 12 Medali dan Dominasi Persaingan
Meski dukungan terhadap Infantino menyusut di sejumlah wilayah, peluangnya untuk mempertahankan jabatan belum sepenuhnya tertutup.
Infantino masih memiliki basis dukungan kuat di Afrika dan Amerika Selatan. CAF dan CONMEBOL bahkan tetap menyatakan dukungan terhadap kepemimpinannya.
Baca: Senam bersama DPC PKS Tuah Madani, Hendry Munief Ajak Warga Jaga Kesehatan Keluarga
Di sisi lain, sejumlah anggota FIFA tidak selalu mengikuti sikap konfederasi masing-masing. Karena itu, peta suara menuju pemilihan Presiden FIFA 2027 masih sangat mungkin berubah.
Kontroversi Komersialisasi Piala Dunia
Persoalan bermula ketika muncul rencana untuk melibatkan investor swasta dalam sebagian bisnis komersial Piala Dunia. Proposal tersebut memicu kekhawatiran mengenai tata kelola, transparansi, serta konsentrasi kewenangan di tubuh FIFA.
Baca: Camat Cup Kampar Kiri Bergulir, Eko Apresiasi Semangat Kebersamaan Masyarakat
Rencana itu kemudian dibatalkan setelah mendapatkan tekanan dari berbagai pihak. Namun, pembatalan tersebut tidak serta-merta menghentikan kritik terhadap Infantino.
Sejumlah federasi justru menjadikan persoalan tersebut sebagai alasan untuk meninjau kembali dukungan terhadap pencalonannya.
Baca: Wabup Misharti Resmi Buka Camat Cup I Kampar Kiri, Diikuti 34 Tim dari 21 Desa
Pemilihan FIFA 2027 Makin Terbuka
Pemilihan Presiden FIFA periode 2027-2031 dijadwalkan berlangsung pada Maret 2027 di Maroko. Infantino masih menjadi kandidat kuat, tetapi dinamika politik di tubuh FIFA membuat persaingan berpotensi semakin terbuka.
Selain persoalan dukungan, pencalonan Infantino juga menghadapi sorotan terkait batas masa jabatan. Organisasi FairSquare bahkan meminta FIFA mencegah Infantino maju kembali dengan alasan masa jabatannya telah mencapai batas yang ditetapkan dalam statuta FIFA.
Baca: TVRI Gorontalo Matangkan Persiapan Nobar Perempat Final Piala Dunia 2026, Libatkan UMKM
Infantino sendiri berpendapat bahwa masa jabatan pertamanya setelah menggantikan Sepp Blatter tidak dihitung sebagai satu periode penuh. FIFA sebelumnya mendukung penafsiran tersebut.
Dengan semakin banyak federasi yang mempertanyakan kepemimpinannya, pertarungan menuju pemilihan Presiden FIFA 2027 diperkirakan akan berlangsung lebih ketat.
Baca: DPD PKS Kampar Apresiasi Turnamen Mini Soccer Kerjasama PWI Kampar dan Anggota Legislatif PKS
Peta dukungan masih dapat berubah dalam beberapa bulan ke depan. Namun, satu hal mulai terlihat jelas: posisi Infantino yang sebelumnya relatif nyaman kini menghadapi tantangan politik yang semakin besar di tubuh sepak bola dunia. (SM)
